RSS

Sanusi Pane

Sanusi

Sastrawan Pujangga Baru
Sanusi Pane, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, ini juga berprofesi sebagai guru dan redaktur majalah dan surat kabar. Ia juga aktif dalam dunia pergerakan politik,  seorang nasionalis yang ikut menggagas berdirinya “Jong Bataks Bond.” Karya-karyanya banyak diterbitkan pada 1920 -1940-an. Meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968.
Sanusi Pane (1905-1968)

Bakat seni mengalir dari ayahnya Sutan Pengurabaan Pane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Mereka delapan bersaudara, dan semuanya terdidik dengan baik oleh orang tuanya. Di antara saudaranya yang juga menjadi tokoh nasional,adalah Armijn Pane (sastrawan), dan Lafran Pane salah (seorang pendiri organisasi pemuda Himpunan Mahasiswa Islam).

Sanusi Pane menempuh pendidikan formal HIS dan ElS di Padang Sidempuan, Tanjungbalai, dan Sibolga, Sumatera Utara. Lalu melanjut ke MULO di Padang dan Jakarta, tamat 1922. Kemudian tamat dari Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sahari, Jakarta, tahun 1925. Setelah tamat, ia diminta mengajar di sekolah itu juga sebelum dipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Setelah itu, ia mendapat kesempatan melanjut kuliah Othnologi di Rechtshogeschool.

Setelah itu, pada 1929-1930, ia mengunjungi India. Kunjungan ke India ini sangat mewarnai pandangan kesusasteraannya. Sepulang dari India, selain aktif sebagai guru, ia juga aktif jadi redaksi majalah TIMBUL (berbahasa Belanda, lalu punya lampiran bahasa Indonesia). Ia banyak menulis karangan-karangan kesusastraan, filsafat dan politik.

Selain itu, ia juga aktif dalam dunia politik. Ikut menggagas dan aktif di “Jong Bataks Bond.” Kemudian menjadi anggota PNI. Akibat keanggotannya di PNI, ia dipecat sebagai guru pada 1934. Namun sastrawan nasionalis ini tak patah arang. Ia malah menjadi pemimpin sekolah-sekolah Perguruan Rakyat di Bandung dan menjadi guru pada sekolah menengah Perguruan Rakyat di Jakarta. Kemudian tahun 1936, ia menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu KEBANGUNAN di Jakarta. Lalu tahun 1941, menjadi redaktur Balai Pustaka.

Sanusi Pane sastrawan pujangga baru yang fenomenal. Dalam banyak hal berbeda (antipode) dari Sutan Takdir Alisjahbana. Jika STA menghendaki coretan yang hitam dan tebal dibawah pra-Indonesia, yang dianggapnya telah menyebabkan bangsa Indonesia telah menjadi nista, Sanusi malah berpandangan sebaliknya, mencari ke jaman Indonesia purba dan ke arah nirwana kebudayaan Hindu-Budha. Sanusi mencari inspirasi pada kejayaan budaya Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya sampai pada sintesa Timur dan Barat, persatuan rohani dan jasmani, akhirat dan dunia, idealisme dan materialisme. Puncak periode ini ialah dramanya Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1940.

Karya-karyanya yang terkenal diantaranya: Pancaran Cinta dan Prosa Berirama (1926), Puspa Mega dan Kumpulan Sajak (1927), Airlangga, drama dalam bahasa Belanda, (1928), Eenzame Caroedalueht, drama dalam bahasa Belanda (1929), Madah Kelana dan kumpulan sajak yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1931), naskah drama Kertajaya (1932), naskah drama Sandhyakala Ning Majapahit (1933), naskah drama Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940). Selain itu, ia juga menerjemahkan dari bahasa Jawa kuno kekawin Mpu Kanwa dan Arjuna Wiwaha yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940).

Jiwa nasionalismenya terlihat antara lain dari pernyataan Sanusi Pane tentang akan dibentuknya perhimpunan pemuda-pemuda Batak yang kemudian disepakati bernama “Jong Bataks Bond.” Ia menyatakan: “Tiada satu pun di antara kedua pihak berhak mencaci maki pihak lainnya oleh karena dengan demikian berarti bahwa kita menghormati jiwa suatu bangsa yang sedang menunjukkan sikapnya.” (Dikutip dari Nationalisme, Jong Batak, Januari, 1926).

Dalam naskah itu, Sanusi Pane menyampaikan gagasannya bahwa perhimpunan bagi pemuda-pemuda Batak bukan berarti upaya pembongkaran terhadap de Jong Sumateranen Bond (JSB). Tetapi sebaliknya, menumbuhkan persaudaraan dan persatuan orang-orang Sumatera. Karena itu, Sanusi Pane mengingatkan agar tak ada caci maki antara kedua belah pihak. Semua harus saling menghargai dan menghormati sebagai sesama bangsa, lebih-lebih sebagai sesama Sumatera.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in SANUSI PANE

 

Muh. Yamin

Muh

Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin. Ia meninggal dunia pada tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Di zaman penjajahan, Yamin termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi. Lewat pendidikan itulah, Yamin sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserap Yamin sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu. Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.

Pendidikan yang sempat diterima Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta. Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan sekolahnya di Bogor yang dijalaninya selama lima tahun. Studi di AMS Yogya sebetulnya merupakan persiapan Yamin untuk mempelajari kesusastraan Timur di Leiden. Di AMS, ia mempelajari bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala. Dalam waktu tiga tahun saja ia berhasil menguasai keempat mata pelajaran tersebut, suatu prestasi yang jarang dicapai oleh otak manusia biasa. Dalam mempelajari bahasa Yunani, Yamin banyak mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

Setamat AMS Yogya, Yamin bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia. Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana. Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun. Dengan hati masgul Yamin melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan. Berbagai organisaasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpin Yamin, antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928). Dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) secara bersama disepakati penggunaan bahasa Indonesia. Organisasi lain adalah Partindo (1932–1938).

Pada tahun 1938—1942 Yamin tercatat sebagai anggota Pertindo, merangkap sebagai anggotaVolksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’. Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Yamin dalam pemerintahan, antara lain, adalah Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962).

Dari riwayat pendidikannya dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa Yamin termasuk seorang yang berwawasan luas. Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan. Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya. Barangkali halini merupakan pengaruh lingkungan keluarganya karena ayah ibu Yamin adalah keturunan kepala adat di Minangkabau. Ketika kecil pun, Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914. Dengan demikian, dapat dipahami apabila Yamin tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya, baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.

Umar Junus dalam bukunya Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern (1981) menyatakan bahwa puisi Yamin terasa masih berkisah, bahkan bentul-betul terasa sebagai sebuah kisah. Dengan demikian, puisi Yamin memang dekat sekali dengan syair yang memang merupakan puisi untuk mengisahkan sesuatu.”Puisi Yamin itu dapat dirasakan sebagai syair dalam bentuk yang bukan syair”, demikian Umar Junus. Karena itu, sajak-sajak Yamin dapat dikatakan lebih merupakan suatu pembaruan syair daripada suatu bentuk puisi baru. Akan tetapi, pada puisi Yamin seringkali bagian pertamanya merupakan lukisan alam, yang membawa pembaca kepada suasana pantun sehingga puisi Yamin tidak dapat dianggap sebagai syair baru begitu saja. Umar Junus menduga bahwa dalam penulisan sajak-sajaknya, Yamin menggunakan pantun, syair, dan puisi Barat sebagai sumber. Perpaduan ketiga bentuk itu adalah hal umum terjadi terjadi pada awal perkembangan puisi modern di Indonesia.

Jika Umar Junus melihat adanya kedekatan untuk soneta yang dipergunakan Yamin dengan bentuk pantun dan syair, sebetulnya hal itu tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang melingkungi Yamin pada waktu masih amat dipengaruhi pantun dan syair. Soneta yang dikenal Yamin melalui kesusastraan Belanda ternyata hanya menyentuh Yamin pada segi isi dan semangatnya saja. Karena itu, Junus menangkap kesan berkisah dari sajak-sajak Yamin itu terpancar sifat melankolik, yang kebetulan merupakan sifat dan pembawaan soneta. Sifat soneta yang melankolik dan kecenderungan berkisah yang terdapat didalamnya tidak berbeda jauh dengan yang terdapat dalam pantun dan syair. Dua hal yang disebut terakhir, yakni sifat melankolik dan kecenderungan berkisah, kebetulan sesuai untuk gejolak perasaan Yamin pada masa remajanya. Karena itu, soneta yang baru saja dikenal Yamin dan yang kemudian digunakannya sebagai bentuk pengungkapan estetiknyha mengesankan bukan bentuk soneta yang murni.

Keith Robert Foulcher (1974) dalam disertasinyha mengemukakan bahwa konsepsi Yamin tentang soneta dipengaruhi sastra Belanda dan tradisi kesusastraan Melayu. Karena itu, soneta Yamin bukanlah suatu adopsi bentuk eropa dalam keseluruhan kompleksitas strukturalnya, tetapi lebih merupakan suatu pengungkapan yang visual, sesuatu yang bersifat permukaan saja dari soneta Belanda, yang masih memiliki ekspresi puitis yang khas Melayu.

Berikut ini ditampilkan sebuah soneta Yamin yang masih dilekati tradisi sastra Melayu dan yang menggambarkan kerinduan dan kecitaan penyair pada tanah kelahiran.

Di Lautan Hindia

Mendengarkan ombak pada hampirku

Debar-mendebar kiri dan kanan

Melagukan nyanyi penuh santunan

Terbitlah rindu ke tempat lahirku

Sebelah Timur pada pinggirku

Diliputi langit berawan-awan

Kelihatan pulau penuh keheranan

Itulah gerangan tanah airku

Di mana laut debur-mendebur

Serta mendesir tiba di papsir

Di sanalah jiwaku, mula bertabur

Di mana ombak sembur-menyembur

Membasahi barissan sebuah pesisir

Di sanalah hendaknya, aku berkubur

Pada tahun 1928 Yamin menerbitkan kumpulan sajaknya yang berjudul Indonesia, Tumpah Darahku. Penerbitan itu bertepatan dengan Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda yang terkenal itu. Dalam kumpulan sajak ini, Yamin tidak lagi menyanyikan Pulau Perca atau Sumatera saja, melainkan telah menyanyikan kebesaran dan keagungan Nusantara. Kebesaran sejarah berbagai kerajaan dan suku bangsa di Nusantara seperti kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Pasai terlukis dalam sajak-sajaknya. Dalam salah satu sajaknya, ia mengatakan demikian: ‘….. kita sedarah sebangsa/Bertanah air di Indonesia’.

Keagungan dan keluhuran masa silam bangsanya menimbulkan pula kesadaran pada diri Yamin bahwa:

Buat kami anak sekarang

Sejarah demikian tanda nan terang

Kami berpoyong asal nan gadang

Bertenaga tinggi petang dan pagi

Di atas terbaca warna nasionalisme dalam sajak-sajak Muhammad Yamin. Warna nasionalisme dalam kepenyairan Yamin agaknya tidak dapat dipisahkan dari peranan Yamin sebagai pejuang dalam masa-masa mencapai kemerdekaank. Di samping itu, adanya Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda itu juga memegang peranan yang amat penting. Dengan adanya sumpah pemuda itu kesadaran nasional semakin meningkat dan organisasi-organisasi pemuda yang semula bersifat kedaerahan mulai mengubah dirinya ke arah nasionalistis. Hal ini dapat dikatakan berpengaruh pada pandangan Yamin sebagai penyair dan peranannya yang ingin disumbangkannya untuk kejayaan bangsa dan negaranya. Sebagai pemuda yang mencita-citakan kejayaan masa depan bangsanya, ia tetap mengenang kegemilangan masa silam bangsanya:

Tiap gelombang di lautan berdesir

Sampai ke pantai tanah pesisir

Setiap butir berbisik di pasir

Semua itu terdengar bagiku

Menceriterakan hikayat zaman yang lalu

Peninggalan bangsaku segenap waktu

Berkat cahaya pelita poyangku

Penggalan sajak berikut ini juga memperlihatkan adanya kesadaran untuk memelihara hasi-hasil yang pernah dicapai oleh para pendahulu bangsa dan menjadikannya sebagai modal untuk meraih kegemilangan masa depan:

Adapun kami anak sekarang

Mari berjejrih berbanting tulang

Menjaga kemegahan jangalah hilang,

Supaya lepas ke padang yang bebas

Sebagai poyangku masa dahulu,

Karena bangsaku dalam hatiku

Turunan Indonesia darah Melayu

Patriotisme Yamin yang juga mengilhami untuk menumbuhkan kecintaan pada bangsa dan sastra. Yamin melihat adanya hubungan langsung antara patriotisme yang diwujudkan lewat kecintaan pada bahasa dan pengembangan sastra Indonesia. Sebagai penyair yang kecintaannya pada bahasa nasionalnya berkobar-kobar, ia cenderung mengekspresikan rasa estetisnya dalam bahasa nasionalnya dengan harapan kesusastraan baru akan tumbuh lebih pesat. Hal ini tampak dalam baik berikut ini:

Apabila perasaan baru sudah mendirikan pustaka

baru dalam bahasa tumpah daerah kita, maka

lahirlah zaman yang mulia, sebagai pertandaan

peradaban baru, yaitu peradaban Indonesia-Raya

Di Jakarta, dalam usia 59 tahun—yaitu pada tanggal 17 Oktober 1962 – Muhammad Yamin tutup usia. Walaupun pada masa dewasanya ia praktis meninggalkan lapangan sastra dan lebih banyak berkecimpung dalam lapangan politik dan kenegaraan ia telah meninggalkan karya-karya yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia. Di samping menulis sajak, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes (1943) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?). Yamin memang banyak menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional. Baginyta sejarah adalah salah satu cara dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia pun menulis Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro (1950). Ia banyak pula menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, antara lain karya sastrawan Inggris William Shakespeare (1564–1616) berjudul Julius Caesar (1952) dan dari pengarang India Rabindranath Tagore (1861–1941) berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga

Karya Muhammad Yamin

  1. Puisi

(1) Indonesia, Tumpah Darahku, Jakarta: Balai Pustaka, 1928. (kumpulan)

  1. Drama

(1) Ken Arok dan Ken Dedes, Jakarta: Balai Pustaka, 1934

(2) Kalau Dewa Tara Sudah Berkata. Jakarta: Balai Pustaka, 1932

 

  1. Terjemahan

(1) Julius Caesar karya Shakspeare, 1952

(2) Menantikan Surat dari Raja karya R. Tangore, 1928

(3) Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga karya R. Tigore, t.th

(4) Tan Malaka. Jakarta: Balai Pustaka,1945

 

  1. Sejarah

(1) Gadjah Mada, Jakarta: 1945

(2) Sejarah Pangerah Dipenogoro, Jakarta: 1945

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in MUH. YAMIN

 

Marah Roesli

Marah Roesli atau sering kali dieja Marah Rusli (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889, meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari 1968 adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Keterkenalannya karena karyanya Siti Nurbaya (roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. Siti Nurbaya telah melegenda, wanita yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya

a. Riwayat

Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.

Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

b. Kiprah

Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.

Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan. Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.

c. Bibliografi

  • Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
    • La Hami. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
    • Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.
    • Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
    • Tesna Zahera (naskah Roman)

Terjemahannya: Gadis yang Malang (novel Charles Dickens, 1922).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in MARAH ROESLI

 

Hasan Alwi

Hasan Alwi

Hasan Alwi

Hasan Alwi adalah mantan Kepala Pusat Bahasa, Jakarta. Ia dilahirkan di Talaga, Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 14 Juli 1940. Ia dibesarkan dalam keluarga yang beragama Islam. Pada tahun 2000 bersama istrinya ia menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah. Hasan Alwi mempunyai empat orang anak.

Hasan Alwi menyelesaikan pendidikan sekolah rakyat tahun 1952, SMP negeri tahun 1955, dan SGB tahun 1956, semuanya di Majalengka. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa, Bogor, tahun 1962. Pada tahun 1971 ia menyelesaikan pendidikan sarjana S-1 Jurusan Bahasa Prancis, IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Gelar akademiknya tertinggi diperoleh pada tahun 1990 dalam Program Doktor Bidang Linguistik, Universitas Indonesia.

Sebelumnya, ia mengikuti pendidikan Centre de Linguistique Appliquée, Faculté de Lettres, Université de Besançon, Prancis (1973—1974), Post Graduate Training Programme for General and Austronesian Linguistics, Rijksuniversiteit, Leiden (1979—1980), dan Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt (1986/1987).

Karier Hasan Alwi diawali dengan menjadi guru SD di Banjaran, Talaga (1956–1959); di Ciheuleut, Bogor (1959–1962); dan di Jakarta (1962–1965). Kemudian, ia juga menjadi guru Bahasa Prancis pada SMA IPPI Jakarta, SMA Wedha Jakarta, SMA Santa Ursula II Jakarta, SMA Proyek Perintis Sekolah Pembangunan IKIP Jakarta (1965–1969). Ia juga mengajar bahasa Prancis pada Akademi Bahasa Asing, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966-1978), pada Djakarta Academy of Languages, Jakarta (1966–1979), pada Pusat Kebudayaan Prancis, Jakarta (1972–1986). Selain itu, ia pernah menjadi redaksi/penyiar pada Seksi Prancis, Siaran Luar Negeri, RRI Jakarta (1964–1973). Pada tahun 1978 Hasan Alwi bekerja di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pembantu pimpinan.

Jabatan struktural yang pernah dipegang Hasan Alwi diawalinya ketika ia diangkat sebagai Kepala Bidang Perkamusan dan Peristilahan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen­didikan dan Kebudayaan (1991).

Pada tahun 1992—2001 ia diangkat sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen­didikan dan Kebudayaan .

Setelah selesai jabatannya itu, Hasan Alwi menjadi peneliti pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang). Selain itu, ia menjadi penguji/pembimbing/pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Padja­djaran, Universitas Indonesia, dan Universitas Negeri Jakarta (1992–sekarang).

Sebagai ahli bahasa, Hasan Alwi banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan profesinya, baik dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan itu, antara lain, sebagai penanggung jawab majalah Cadence, Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (1988–1990), Pemimpin Redaksi Majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang), Dewan Penasihat Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Periode 1994-1997 dan 1997—2000, Ketua Panitia Penyelenggara Kongres Bahasa Indonesia VI Tahun 1993 dan Kongres Bahasa Indonesia VII Tahun 1998, Wakil Ketua Panitia Pengarah Kongres Bahasa Jawa II, Batu, Malang, 1996, Ketua Komite Nasional RELC untuk Indonesia (1992—2001), Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan (Pakersa)(1992—2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)(1992—1999 dan 2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) (1996—1999 dan 2001), Ahli Jawatankuasa Mastera pada Bengkel Kesusastraan Bandingan 1996, 13–14 Agustus 1996, Kuala Lumpur, Ahli Jawatankuasa Eksekutif Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2000—2001), Ahli Jawatankuasa Kerja Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2001—sekarang), Ketua ASEAN-COCI Working Group on Literary and Asean Studies (1996—1998), dan Anggota Governing Board SEAMEO-RELC (2001—sekarang).

Di samping itu, ia juga aktif di berbagai organisasi profesi, seperti Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (sebagai Sekretaris Pengurus Pusat , 1970—1973 dan Ketua Pengurus Pusat, 1983—1990; Pemimpin Redaksi majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang); Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) ( anggota, 1986–sekarang); Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) (anggota, 988—

sekarang); Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (anggota, 1999—sekarang)

Dalam perjalanan kariernya sebagai pakar bahasa, Hasan Alwi banyak menghasilkan karya tulis, baik yang berupa buku maupun makalah, yang sudah diterbitkan dan yang belum diterbitkan, antara lain, sebagai berikut.

A. Karya Tulis yang Sudah Diterbitkan
  1. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 1992.
  2. “Kata Seperti, Mungkin, dan Barangkali”. .Dalam Berita ILDEP, Tahun II, No. 4 (1991): 26–36
  3. “Dari Bahasa Melayu Ke Bahasa Indonesia: Pemantapan Sarana Pencerdasan Kehidupan Bangsa.” Majalah Sastra Horison. Desember 1996: 9–13
  4. “Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia melalui Pembinaan Bahasa Indo­nesia.” Majalah Bahasa dan Sastra Tahun XVI, No. 1, 1998: 1–15
  5. “Sastra di Indonesia Perlukah Dibina dan Dikembangkan?”. Majalah Sastra Horison. Februari 1999: 6–9
  6. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Tim Penyusun bersama Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. Jakarta: Balai Pustaka. 1999
  7. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Wakil Penanggung Jawab Tim Redaksi. Jakarta: Balai Pustaka. 1999 (Cetakan Pertama 1991)
  8. “Seputar Kalimat Imperatif dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.) 88–96. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Pem­binaan dan Pengembangan Bahasa. 1999
  9. ”Fungsi Politik Bahasa”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.): 6—20. Politik Bahasa (Risalah Seminar Politik Bahasa). Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000.
  10. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000.
  11. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?” Dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed.):151—160. Tipologi Bahasa Pragmatik Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya. 2001
  12. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Dalam Riris K Toha-Sarumpaet (Ed.):12—19. Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera. 2002.
  13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Dalam Ied Veda Sitepu (Ed.):3—22. Tujuh Puluh Tahun Pak Maurits Simatupang. Festschrift. Jakarta: Universitas Kristen Indonesia Press. 2002
  14. “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Dalam Katharina Endriati Sukamto (Ed):201—216. Menabur Benih Menuai Kasih. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2004

B. Karya Tulis yang Belum Diterbitkan

  1. “Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing.” Makalah Simposium Perkembangan Bahasa Indonesia di Kawasan Timur Jauh. 19–20 Juli 1993 di Tokyo
  2. “Pengajaran BIPA: Upaya Pengembangan.” Makalah Simposium Bahasa Indonesia di Asia Timur, 14–17 Desember 1995, Beijing
  3. “Upaya Pengembangan Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia.” Makalah Seminar Jaringan Melayu Antar Bangsa, 12–13 September 1996, Hotel Grand Hyatt, Jakarta
  4. “Bahasa, Daya Nalar, dan Kecermatan.” Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Budaya di Dunia Melayu (Asia Tenggara), Mataram, 21–23 Juli 1997
  5. “Upaya Meningkatkan Pengajaran BIPA di Luar Indonesia.” Makalah Seminar dan Workshop Penyebaran/Peningkatan Studi Bahasa dan Kebu­dayaan Indonesia, Passau (Jerman), 18–21 September 1997
  6. “Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Sastra di Indonesia.” Makalah untuk Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia di Sumatera Barat, 6–11 Desember 1997
  7. “Upaya Peningkatan Kerja Sama Pembinaan dan Pengembangan Sastra dalam Menghadapi Tantangan Zaman.” Makalah Seminar Mastera I, Malaysia, 16 Februari 1998
  8. “Beberapa Catatan tentang Penerjemahan.” Makalah Seminar Penerjemahan, dise-lenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2–6 Oktober 1978, di Wisma Arga Mulya, Tugu, Bogor
  9. “Pengembangan Kesusastraan Indonesia pada Abad Ke-21.” Makalah Per­temuan Sastrawan Nusantara X dan Pertemuan Sastrawan Malaysia I, 16–20 April 1999, Johor Bahru, Malaysia
  10. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Makalah Diskusi Angkatan Sastra 2000, Komunitas Sastra Indonesia, 2 Oktober 1999, PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki
  11. “Peran Tradisi dalam Sistem Pendidikan Nasional dan Pembentukan Wacana Kebudayaan”. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III, 14–16 Oktober 1999, Jakarta
  12. “Plus-Minus Kamus Badudu-Zain”. Makalah Seminar Bedah Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain, 2 Mei 2001, Universitas Padjadjaran, Bandung
  13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Makalah Seminar Nasional XI Bahasa dan Sastra HPBI, 10—12 Juli 2001, BPG Denpasar
  14. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?”. Makalah Pertemuan Linguistik PELBA 14, 24—25 Juli 2001, Unika Atma Jaya, Jakarta
  15. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Bahan Penataran Leksikografi I, diselenggarakan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 13—16 Agustus 2001, Hotel Parkroyal, Kuala Lumpur
  16. “Bahasa Kebangsaan dan Pengembangan Ilmu”. Makalah Persidangan Serantau Bahasa, Sastra, dan Budaya Melayu, 20—23 Oktober 2001, Universiti Putera Malaysia, Serdang
  17. “Pemertahanan Bahasa Indonesia sebagai Upaya Pembinaan Peradaban Bangsa”. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu dalam Pendidikan dan Pembinaan Peradaban Bangsa”, diselenggarakan oleh Universitas Pakuan bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Universitas Pakuan, Bogor, 14—16 September 2002
  18. “Pembinaan Bahasa dalam Konteks Otonomi Daerah”. Makalah Seminar Bahasa dan Kebahasaan “Kebijakan Bahasa Nasional dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah”, Program Studi Linguistik USU bekerja sama dengan Ikatan Alumni Linguistik Program Pascasarjana USU, Pusat Bahasa USU, Medan, 22 April 2004

Atas dedikasinya pada profesinya itu, Hasan Alwi mendapat piagam tanda kehormatan, yaitu Satyalancana Dwidya Sistha dari Kepala Staf TNI-AL (1984); Satyalancana Karya Satya Tingkat III, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 001/TK/Tahun 1988, tanggal 6 Januari 1988; Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 071/TK/Tahun 2001, tanggal 8 Agustus 2001; Penghargaan Pusat Bahasa sebagai pendiri Mastera (2005).

Alamat Kantor: Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur

Telepon 021-4894564, Faksimile 021-4750407

Pos-el: hasanalwi40@yahoo.com

 

Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara VII No. 26, Kelurahan Jati

Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta 13220, Telepon 021-4894227

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in HASAN ALWI

 

SARAN

Demi kemajuan dan pengembangan weblog ini, dimohon buah pikiran dari para pengunjung melalui kotak saran di bawah ini:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in KOTAK SARAN

 

Chairil yang Tak Sapadan dan Sia-sia

Dalam sajak Tak Sepadan, yang dituliskan pada bulan yang sama dengan sajak Diponegoro, Chairil menentukan pilihannya. Dia berkata: “kau kawin, beranak dan berbahagia / Sedang aku mengembara serupa Ahasveros“. Chairil menolak ikatan, dia memilih kesunyian. Dan putusan ini bukan tanpa dia pikir masak-masak sebelumnya.

 

Tak Sepadan

Aku kira

Beginilah nanti jadinya

kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

 

Dikutuk-disumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu jua pintu terbuka

 

Jadi baik juga kita pahami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

 

Februari 1943

Dia tahu apa yang akan jadi nasibnya. “Aku merangkai dinding buta / Tak juga pintu terbuka”, katanya melukiskan apa yang akan terjadi pada dirinya dengan memilih jalan tersebut.

Ini diperkuat lagi pada sajaknya yang berikut, yang juga dituliskan pada bulan yang sama, Sia-sia.

 

Sia-sia

Penghabisan kali ini kau datang

Membawa kembang berkarang

Mawar merah dan melati putih

Darah dan Suci

Kau terbarkan padaku

Serta pandang yang memastikan: untukmu

Lalu kita sama termangu

Saling bertanya: apakah ini?

Cinta? Kita berdua tak mengerti

 

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

 

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Februari 1943

 

Betapa menggoda kehidupan yang diidealisir seperti yang dilakukan oleh Diponegoro, dilukiskan oleh Chairil dalam sombol-simbol ikatan cinta dengan seorang gadis, yang memang memiliki persamaan dasar yang kuat. “Darah dan Suci / kau terbarkan depanku / Serta pandang yang memastikan: untukmu”. Dan keputusan diambil — dia memilih kehidupan ini sebagaimana adanya, tanpa mengidealisirnya. Ini artinya kesepian. Ini artinya kesunyian. Ini artinya penderitaan. Tapi Chairil tetap memilihnya, dan dia menista dirinya karena memilih yang itu. “Ah! Hatiku yang tak mau memberi / Mampus kau dikoyak-koyak sepi”. Betapa beratnya pilihan itu bagi Chairil.

 

diambil dari: Chairil Anwar

Sebuah Pertemuan, Arief Budiman. hal. 23-24

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in ANALISIS PUISI

 

Legenda Candi Prambanan

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya — ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan — tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/30/2014 in DONGENG